Kisah Seorang Aswaja Lugu Yang Belajar Ngaji ke Seorang Wahabi Alim

 

Kisah Seorang Aswaja Lugu Yang Belajar Ngaji ke Seorang Wahabi Alim

Wahabi: Saudaraku! Aku lihat kau masih ikut merayakan maulid nabi kemarin. Bukankah sudah kukatakan jika itu bid'ah sebab tidak ada dalilnya baik dalam al-Quran maupun dalam hadits dan nabi bersabda segala bid'ah itu sesat. Jadi kau itu sesat jika masih menerima maulid nabi.

Kuingatkan lagi kau, jika ajaran itu tidak ada dalilnya sama sekali baik dari al-Quran maupun hadits maka itu adalah bid'ah dan itu sesat.

Aswaja: Aku ini orang bodoh dan aku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan oleh golonganku ustadz.

Wahabi: Lebih baik kau belajar padaku agar kau menjadi alim sepertiku.

Aswaja: Hmmm... baiklah, tapi aku mau belajar baca al-Quran dulu karena aku sangat ingin bisa membaca al-Quran dengan baik dan kutahu kau adalah orang yang pandai membaca al-Quran.

Wahabi: Oh dengan senang hati, apalagi aku adalah orang yang paling bagus bacaannya diantara golonganku.

Aswaja: Kapan aku bisa belajar padamu?

Wahabi: Bagaimana kalau mulai besok tiap sore di majelis ta'limku.

Aswaja: Baiklah aku setuju.

Keesokan harinya si Aswaja dengan sangat semangat berangkat mengaji. Dalam pikirannya dia membayangkan suatu hari nanti bisa membaca al-Quran sebaik si Wahabi.

Setelah mengucap salam dan dipersilahkan masuk ke ruang majelis ta'lim oleh si Wahabi, si Aswaja merasa grogi karena di dalam majelis tsb rupanya sudah sama berkumpul para murid si Wahabi. Kemudian si Aswaja bersalaman kepada seluruh murid sekaligus kepada si Wahabi itu sendiri.

Wahabi: Silahkan duduk saudaraku!

Aswaja: (Melangkah maju dan duduk di hadapan si Wahabi).

Wahabi: Kita mulai pelajaran hari ini dari surah al-Fatihah ya?

Aswaja: Ya ustadz.

Wahabi: Aku baca dulu surahnya biar kau punya gambaran seperti apa bacaan al-Fatihah yang benar itu. Bimillaahirrahmaanirrahiim, alhamdulillaahirabbil 'aalamiin............ dst sampai waladldloooooolliin. Nah coba sekarang kamu tirukan bacaanku barusan, jika ada kesalahan akan aku betulkan.

Aswaja: Bismillahir... ‎#gugup

Wahabi: Salah, La-nya itu harus dibaca panjang karena itu bacaan mad thabi'i.

Aswaja: (Duh hebat banget nih ustadz, pasti hafal dalilnya mad thabi'i) Bismillaaaahir...

Wahabi: Stop, jangan dibaca terlalu panjang, bacaan mad thabi'i itu cukup dibaca dua ketukan atau satu harakat.

Aswaja: (Subhanallah... dia juga hafal dalil ketukan mad thabi'i?) Bismil...

Wahabi: Kenapa berhenti? Ayo teruskan!

Aswaja: Hmmm... anu ustadz saya ragu-ragu baca La-nya itu dibaca panjang atau pendek? Boleh saya tau dalilnya mad thabi'i biar saya lebih yakin dan mantap.

Wahabi: Ya tidak ada dalilnya.

Aswaja: Dalam al-Quran tidak ada dalilnya?

Wahabi: Tidak ada.

Aswaja: Dari hadits mungkin?

Wahabi: Sama sekali tidak ada.

Aswaja: Masa tidak ada dalilnya ustadz, kalau dari para sahabat gitu? (maksudnya adalah atsar).

Wahabi: Kan aku sudah bilang kalau tidak ada ya tidak ada. Yang buat mad thabi'i itu para ulama.

Aswaja: Terus kenapa ustadz mengajarkan mad thabi'i kepada saya yang jelas-jelas tidak ada dalilnya sama sekali. Bukankah ustadz kemarin berkata bahwa ajaran yang tidak ada dalilnya baik dari al-Quran maupun hadits adalah bid'ah dan segala bid'ah itu sesat.

Wahabi: (Waduh... mau jawab apa aku ini?) a... i... u... e... o... anu... itu... ini... ‎#sambil menahan rasa malu kepada murid-muridnya yang lain.

Aswaja: Ah sudahlah ustadz, aku tak mau berguru pada orang yang munafik ‎#berdiri dan beranjak keluar.

Wahabi: Maksudmu aku seorang munafik?

Aswaja: Ya, kemarin kau melarang aku untuk merayakan maulid nabi yang katamu bid'ah karena tak ada dalilnya tapi hari ini kau malah mengajarkan aku sesuatu yang juga tidak ada dalilnya. Apa itu bukan munafik namanya?

Lalu si Aswaja bergegas meninggalkan si Wahabi yang termangu dan tak sanggup berkata apa-apa bak disambar petir.

Dengan serta merta dihadapan seluruh muridnya si Wahabi bersimpuh lalu bersujud sembari menyesali kesalahan keyakinannya selama ini. Dalam sujudnya si
Wahabi berdoa,
"Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Kuasa, telah berapa banyak alim ulama ahlu sunnah wal jamaah yang telah kuhadapi selama ini, yang meski kesemuanya mampu mematahkan argumen-argumenku mengenai masalah bid'ah, tak satupun dari mereka yang mampu meruntuhkan keyakinanku bahwa semua bid'ah itu sesat.

Hari ini melalui seorang hambamu yang bodoh lagi lugu Kau malah menghancurkan benteng-benteng kesesatan dalam hatiku ini. Ya Allah benarlah ayat-Mu yang berbunyi "innal hudaa hudallah". Tiadalah yang mampu memberi hidayah kecuali Dirimu. Ya Allah ampunilah segala dosaku dan terimalah taubatku hari ini."

Demikian sekiranya kisah ini mampu memberi gambaran kepada kita bahwa manusia tak akan bisa lepas dari bid'ah (dalam hal ini yang dimaksud adalah bid'ah hasanah).

Dan alhamdulillah melaui bid'ah-bid'ah itulah kita umat muslim diseluruh dunia mampu membaca al-Quran, menghafal al-Quran, menghidupkan kembali kegembiraan atas lahirnya Rasulullah ke bumi dengan adanya maulid nabi, mampu menjaga ukhuwah islamiyah dengan saling mendoakan tetangga-tetangga kita yang telah wafat dengan tahlilan secara berjamaah, dan lain sebagainya.

Wallahu a'lam bisshawab
(Musyaffa' bin Ali bin Astawi bin Kafrawi al-Maduri)

Kiriman dari seorang Hamba Allah

“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”
abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: