//

Ibunda Habib Umar Hafidz, Sayyidah Hababah Zahra binti Abdullah Bin Ali Al Haddar ra

Guru Mulia Al Alim Al Alamah Al Musnib Al Habib Umar Bin Hafidz Bin Syech Abubakar Bin Salim, Mengenang Ibunda Sayyidah Hababah Zahra binti Abdullah Bin Ali Al Haddar ra, 

( semoga Rahmat Allah selalu bersamanya). 


 Berbicara dalam majlis di rumah Syarifah Hababah Zahra di Tarim pada 23 Sya`ban 1436/ 10 Juni 2015 :

"Dalam pertemuan ini kita mengenang wanita mulia ini dan kepergiannya dari kehidupan ini: kehidupan yang penuh cobaan / ujian, kehidupan di mana seseorang mengumpulkan perbekalan untuk kehidupan berikutnya. Hanya sedikit orang yang hidupnya mencapai usia seperti beliau (96thn) dan berada di antara orang-orang yang disebutkan Rasulullah SAW : 
"Yang terbaik dari kalian adalah orang-orang yang diberkati dengan umur panjang dan (diisi dengan banyak), perbuatan baik' Melalui dzikrAllah, tafakkur, ilmu, amalan dan pemurnian jiwa demi mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan kita"
 
"Satu-satunya penyesalan bagi ahlul jannah adalah membiarkan ada waktu yang berlalu dalam hidup ini di mana mereka tidak mengingat Allah".

Hababah Zahra merupakan model tipe wanita kebanyakan di Hadramaut. 

Beliau adalah seseorang yang sangat taat pada Allah dan Rasul-Nya SAW dan mengambil bimbingan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits, bukan dari sumber duniawi.
Beliau taat pada segala sesuatu yang telah diwajibkan Allah, serta Sunnah dan adab yang ia terima melalui rantai (sanad) yang tak terputus hingga kembali ke Nabi SAW.
Di dalam rumah tangganya, yang lebih tua dihormati dan kasih sayang selalu dilimpahkan bagi yang muda. Yang lebih Muda akan mencium tangan salah satu kerabat mereka yang lebih tua. 

Satu lirikan dari hababah sudah cukup untuk memberitahu kami jika kami harus izin untuk memasuki ruangan.
Jika kami sedang bermain di luar dan ada orang tua yang berjalan lewat disekitar kami, kami akan berhenti bermain sampai mereka lewat menjauh. 

Jika yang lewat itu adalah orang yang saleh, kami akan mencium tangan mereka.

Zaman sekarang kita telah kehilangan banyak rahasia dari tarbiyah seperti itu.
Hababah Zahra memiliki dua pedoman hidup yang diikuti dari dua ayat ini:

واتبع سبيل من أناب إلي ۚ
 
dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Ini adalah tanda kelengkapan yang melekat pada dirinya yang kami lihat sejak kami kecil. Beliau adalah seseorang yang takut pada Tuhannya. Tak jarang anggota keluarga mendengar seseorang menangis di rumah pada malam hari dan mereka pergi untuk menyelidiki.
Mereka akan menemukan Hababah Zahra tengah menangis dalam sujud untuk Tuhannya.
malam malamnya senantiasa diisi untuk dekat dengan Tuhannya, Subhah (tasbih) nya selalu bersamanya sampai dia meninggal dia akan terus berada dalam keadaan mengingat Allah dan dia akan terus-menerus membaca Alquran.
Habib Umar menyebutkan kesederhanaan pernikahan Hababah Zahra dengan Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dan bagaimana sedikitnya apa yang mereka miliki.
Pada titik ini Habib Umar terdiam dan mulai menangis.
Dia mengatakan bahwa pernikahan mereka menyerupai pernikahan Sayyidatuna Fatimah al-Zahra. Terus kenapa dan Apa yang membuat kita dizaman ini telah tertipu dan telah meninggalkan cara-cara mereka yang saleh ?
Jika kita ingin belajar akhlak mulia, belajar dari Sayyidina Muhammad SAW dan keluarganya.
Semua kualitas terpuji yang dapat dimiliki seorang perempuan dapat ditemukan pada wanita terbaik penghuni surga, Fatimah Al Batul Al Zahra putri Sayyidina Muhammad SAW.
Sudahkah kita mempelajari hidupnya, mengamalkan jalannya?

Kemudian Habib Umar melanjutkan untuk menjelaskan rumah tangga orang tuanya. 

Rumah di mana mereka hidup dan tempat terakhir hababah Zahra menghembuskan nafasnya itu dimulai sebagai bangunan satu lantai yang sangat sederhana.
Kemudian Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz ( ayahanda beliau / Habib Umar Bin Hafidz ),secara bertahap memperluas rumah itu saat lahir dan hadirnya anak anak mereka, mengisi setiap kamar dengan ilmu pengetahuan, adab dan dzikir. 

Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz tidak sempat menyelesaikan menghafal Al-Qur'an di masa kecilnya sehingga ia tertarik untuk menyelesaikan penghafalan Quran di masa setelah berkeluarga. dia menyuruh Habib Umar kecil memegang mushaf dan meminta padanya untuk mengoreksinya jika ia membuat kesalahan dalam pembacaan sewaktu beliau sholat, dan setiap waktu Habib Umar bangun di tengah malam dia mendapati ayahnya sedang membaca Al-Qur'an. 

Dalam sepertiga terakhir malam, ia akan bangunkan Habib Umar dan membawanya menuju Masjid al-Maqalid, masjid terdekat dari rumah mereka. Habib Umar berusia kurang dari sembilan tahun pada saat itu (pernah ada orang mengkritik Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz saat melihat habib umar kecil ikut sholat tahajjud dalam keadaan mengantuk,'anakmu terlalu kecil untuk melakukan ibadah seperti ini!'.
Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz hanya tersenyum dan berkata :
" Tunggu dan lihatlah akan jadi seperti apa anak ini dikemudian hari!!!").
Hababah Zahra mengurusi rumah tangga mereka dengan cara yang terbaik meskipun hidup pas pasan dan serba kekurangan dan itu adalah perwujudan dari apa yang disabdakan Nabi SAW :
"Manajemen yang baik adalah setengah dari kehidupan seseorang".
Dan Pada waktu itu mereka tidak pernah makan daging kecuali pada hari raya qurban, pernah mereka mengalami masa kelaparan (selama Perang Dunia Kedua) dan mereka memiliki beberapa tamu yang tinggal bersama di rumah mereka. 

hababah Zahra khawatir bahwa mereka tidak akan mampu untuk menghormati tamu selayaknya. 

Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz berkata :
"Ketika ada makanan, dia bisa makan bersama kita dan kalau tidak ada, dia akan kelaparan seperti kita".
Hababah banyak belajar untuk tidak terpukau dengan dunia dan materi dari suaminya.

Hababah Zahra berupaya mengurusi semua urusan rumah tangga, dan sebagai hasilnya ia menyerap sebagian besar ganjaran dari karya suaminya - usaha habib Muhammad dibidang dakwah, ajarannya, buku-buku yang ia tulis, fatwa-fatwanya dan cara bagaimana menyelesaikan sengketa.
Satu-satunya hal yang luput adalah beliau tidak di takdirkan syahid seperti suaminya, tapi sepanjang hidup beliau telah ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan, terutama pada akhir hidupnya dan alhamdulillah dalam pandangan kami beliau berhasil melewati itu semua.

Orang-orang di zaman ini banyak berbicara tentang memberi lebih banyak kebebasan kepada kaum hawa untuk pergi dan bekerja diluar rumah, dan tak bisa dipungkiri hababah adalah seorang wanita pekerja. 

Beliau pergi mencari kayu bakar, membuat roti panggang, dan mengurusi tamu. Demikian juga banyak perempuan di zamannya bekerja di ladang, membuat pakaian atau menggiling biji-bijian tanpa pernah harus bergaul dengan laki-laki dan mengekspos diri mereka sendiri. 

Apa gunanya kebebasan yang ada dalam ketidaktaatan kepada Allah?
Beliau sangat tertekan melihat banyak mode baru pakaian wanita yang datang dari luar (yang tidak islami). dia mengatakan bahwa di Tarim gaya pakaian selalu sama, untuk seorang gadis, seorang wanita muda dan seorang wanita tua. sederhana dan cukup untuk menutupi tubuh sepenuhnya.
Itu mungkin jenis pakaian yang sama yang dipakai sejak masa al-Faqih al-Muqaddam dan itulah jenis pakaian yang hababah kenakan saat dia meninggal. 

Berapa banyak orang yang bisa mengatakan bahwa mereka belum terpengaruh oleh apa yang disebut budaya Barat?
Kami dan semua orang disekitar yang pernah bertemu beliau merasa bahwa beliau adalah ibu bagi semua orang, karena belas kasihan yang beliau miliki terhadap sesama hamba Allah dan keinginan dan harapannya untuk melihat kebaikan bagi semua orang, kami tak kan pernah bisa membalas semua kebaikan dan jasanya, dia mengandungi kami dalam rahimnya, Memberikan ASI, membersihkan kami setiap saat, mengangkat, membesarkan dan mengajari kami.
Kami telah diberkati dengan kehadirannya untuk waktu yang lama dan apa saja yang diperjuangkan setelah kehilangan ayah kami.

Namun, kali ini waktunya telah tiba,

وما كان لنفس أن تموت إلا بإذن الله كتابا مؤجلا ۗ

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. 

وما عند الله خير للأبرار

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Jelas, Tuhan adalah lebih baik baginya daripada kami.
Yang bisa kami lakukan adalah bersabar dan mengikuti teladan yang telah beliau contohi.
Setiap kali beliau menerima berkat berupa materi dia akan meminta untuk menerima berkat yang sama dan lebih di kehidupan berikutnya. 

Ketika dia melihat Dar Al Musthafa selesai dibangun dia berkata : 

"Ya Tuhanku, seperti Engkau telah memberi berkah ini dalam kehidupan ini, berkati juga kami di kehidupan berikutnya!"
Diakhir hayatnya beliau selalu berulang ulang bibirnya dengan ayat ini,

إن الله وملائكته يصلون على النبي ۚ يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Telah diriwayatkan bahwa orang yang banyak mengingat kematian akan menemukan kubur mereka menjadi taman surga, sedangkan orang yang lalai dari mengingat kematian akan menemukan kubur mereka menjadi salah satu lubang neraka (naudzubillah). 

Hababah Zahra selalu mengingat kematian dan sudah siap untuk mati bertahun-tahun sebelum kematian datang. dia selalu memohon untuk mendapati akhir yang baik dan berulang kali meminta orang lain untuk berdoa agar dia memiliki akhir yang baik (husnul Khotimah).

Dan jika seseorang meminta beliau untuk berdoa dengan rendah hati beliau akan berkata,
'apalah artinya saya? Sehingga berdoa bagimu?".
Putranya, Habib Salim (kakak habib Umar yang hidup di Jeddah) baru-baru ini mengatakan ia berhalangan dan tidak dapat menghadiri ziarah Nabi Hud AS, tetapi berjanji akan datang setelah waktu ziarah. 

Hababah mengatakan: "Dia akan hadir pada saat kematian saya".
(Dan biiznillah perkataan hababah ini terbukti benar),

Dan AlHamdulillah semuanya Dalam kemudahan dan berlangsung cepat, kematiannya itu mengingatkan pada kematian Guru mulia kami, Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab (jantung hati kota tarim), yang Mengatakan kata-kata terakhirnya dan duduk dan meninggal. 

Hababah juga minum air dan meminta untuk ditempatkan pada tempatnya dan kemudian dia meninggal.
Semoga Allah mengangkat beliau ke Firdaus tertinggi dan memungkinkan dia untuk memberikan syafaat bagi kami dan bagi umat.

Semoga Allah mengizinkannya untuk bertemu dengan Ciptaan Nya Yang Terbaik dan Ibunda Fathimah AzZahra dan putri putri Nabi lainnya serta istri nya dan pendahulunya yang mulia.

Semoga Allah meringankan penderitaan umat dan memberikan kita semua akhir yang baik.
Kami membaca Fatihah untuk Hababah Zahra, Habib Muhammad dan semua datuk moyang mereka dan keturunannya, termasuk Habib `Abd al-Rahman Al-Masyhur, anaknya Habib` Ali dan anak Habib `Ali` Abdullah dan putrinya Hababah Nur, (ibu Habib Muhammad).
Kami juga membacanya untuk semua orang yang mencintai kami dan semua Muslim muslimah yang telah meninggal.
A'dzhomallah ajrukum wal baqalillah.

اللّهمّ صلِّ على سيّدنا محمّدٍ وآله
وصحْبه وسلِّم



(*sumber Muwasala, mohon beribu ribu maaf jika ada kekurangan dalam terjemahannya).


abdkadiralhamid@2015

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ibunda Habib Umar Hafidz, Sayyidah Hababah Zahra binti Abdullah Bin Ali Al Haddar ra"

  1. Semoga ibunda guru mulia kita habib umar bin hafidz kembali kepada sang penciptanya dalam keadaan ridho dan diridhoi.mudah mudahan Allah mengumpulkan beliau bersama orang orang yg sholih.mudah mudahan ilmu dan akhlakul karimah yang beliau contohkan bisa diteladani oleh semua wanita muslimah di seluruh penjuru dunia.aamiin aamiin Allaahumma aamiin

    ReplyDelete

Silahkan komentar yg positip