//

MUKADIMAH KITAB ASY-SYARAFUL MUABBAD, KEMULIAAN ABADI KELUARGA NABI

KEMULIAAN ABADI KELUARGA NABI
ASY-SYAIKH AL-QADHI YUSUF BIN ISMAIL AN-NABHANI

[ MUKADIMAH ]

Bismillahirrahmânirrahîm
Segala puji bagi Allah yang telah mensucikan Ahlul Bait Nabi kita dari setiap kotoran, dan telah memberikan kepada mereka karunia yang besar dari sisi-Nya. Allah Ta’ala berfiman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzâb: 33).

Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, yang diutus dari suku terbaik dan keluarga termulia. Juga kepada keluarga beliau yang mulia dan terhormat, serta para sahabat beliau para pemimpin dan panutan.

SURAH AL-AHZAAB AYAT 33
 
 
SURAH AL-AHZAAB AYAT 33
Telah berkata al-faqir Yusuf bin Ismail an-Nabhani –semoga Allah memaafkan dirinya–: salah satu urusan agama yang paling penting dan keyakinan akidah Islam yang paling tinggi adalah keyakinan bahwa penghulu kita, Nabi Muhammad SAW, adalah lebih utama dari semua malaikat dan rasul. Begitu pula, nenek moyang beliau dan semua keturunannya adalah nenek moyang dan keturunan yang paling mulia. Bagaimana tidak, nasab mereka telah bersambung kepada beliau, dan derajat mereka terkait dengan derajat beliau. Mereka berasal darinya dan kembali padanya. Mereka adalah manusia terdekatnya.

Tidak diragukan pula bahwa kecintaan kepada Nabi SAW adalah kewajiban bagi setiap ahlu tauhid (kaum muslimin, Penj.). Baik ia seorang mujtahid ataupun muqallid (pengikut). Tinggi rendah keimanan mereka tergantung dari tinggi rendah kecintaan tersebut. Barang siapa yang mengaku beriman tanpa kecintaan itu maka sungguh ia telah melakukan kemunafikan dan kedustaan yang besar.

Diantara bentuk kecintaan kepada Nabi SAW adalah kecintaan kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan beliau. Nasab mereka –seperti nenek moyang dan keturunan beliau—kembali kepada nasab beliau. Nenek moyang Nabi SAW telah lewat masa mereka dan hanya berita tentang mereka saja yang tersisa. Maka barang siapa yang mengaku mencintai mereka karena diri beliau maka tiada cela baginya. Pengakuannya dikembalikan kepada dirinya masing-masing, karena tidak ada bukti atas kesalahan pengakuan itu. Adapun kebenaran hatinya (tentang pengakuan itu) diserahkan kepada Allah semata.

Adapun anak-anak (keturunan) beliau maka mereka adalah keberkahan umat ini. Mereka adalah penyingkap kegelapan semua kesusahan umat. Setiap masa harus ada sekelompok dari mereka agar Allah mencegah musibah dari manusia. Mereka adalah pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk langit. Barang siapa yang hidup semasa dengan mereka dan mengaku mencintai mereka dengan kata-kata indahnya tetapi tidak memberikan bukti melalui perbuatannya maka pengakuannya itu adalah batil (tidak benar) dan kosong dari kebenaran.

Ini jika ia tidak justeru menyakiti mereka dengan pena dan lisannya. Dan tidak merendahkan mereka dengan isyarat mata dan anggota badannya. Namun jika ada yang sungguh melakukan itu tapi ia mengaku mencintai mereka maka menurutku ia adalah orang gila dan hanya merusak agamanya.

Hal yang seperti ini telah terjadi di masa kita di Konstantinopel (Istambul, Penj.) tahun 1297 H yang dilakukan oleh sekelompok orang bodoh. Mereka tenggelam dalam berbagai lumpur kebencian kepada keluarga Nabi Muhammad SAW. Dengan kebodohan itu, mereka menafsirkan berbagai ayat dan hadits tentang keutamaan Ahlul Bait Nabi SAW, sumber risalah syariat, tempat penurunan wahyu, dan mata air hikmah. Orang-orang itu mengeluarkan teks-teks syariat itu dari makna zahirnya dengan pemahaman yang buruk dan pemikiran yang tercela. Namun, ironisnya, mereka mengaku mencintai dan mengasihi Ahlul Bait. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah tersesat dalam lembah kehinaan.

Ketika Allah SWT berkehendak untuk menyempurnakan kesesatan mereka maka mereka ditakdirkan untuk menemukan kitab Nawâdir al-Ushûl karya al-Hakim at-Tirmidzi. Dalam kitab itu, beliau –radhiyallahu ‘anhu—memberikan penafsiran untuk ayat: 

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzâb: 33). 

Dan juga tafsir untuk hadis:

إِنِّيْ تَارِك ٌفِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ:كِتَابُ اللهِ وَأَهْلُ بَيْتِيْ عِتْرَتِيْ

“Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian dua hal yang berat: Kitabullah dan Ahlu Baitku keluargaku.”

Dan hadits:
اَلنُّجُوْمُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ، وَأَهْلُ بَيْتِيْ أَمَانٌ لِأَهْلِ اْلأَرْضِ

“Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk langit, dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi penduduk bumi.”

Beliau –al-Hakim at-Tirmidzi—menafsirkan itu dengan kata-kata yang zahirnya bertentangan dengan pemahaman yang dianut oleh mayoritas ulama. Ia berpendapat bahwa ayat di atas hanya khusus bagi Ummahatul Mukminin, para isteri Nabi SAW yang suci. Bahkan ia mencela para ahli tafsir yang berpandangan lain dari dirinya.
Lebih aneh lagi, anggapannya bahwa makna “Ahlu Baitku” dalam hadits pertama (hadits tsaqalain) adalah para ulama dan ahli fikih umat ini.
Keanehan yang sama atau bahkan lebih aneh lagi adalah anggapannya bahwa maksud dari Ahlul Bait dalam hadits kedua adalah para wali Abdal, bukan keturunan Nabi SAW. Ia menolak bahwa keutamaan ini tidak mungkin ada pada unsur suci (keturunan yang membawa bagian tubuh Nabi SAW, Penj.).

Saya sangat yakin bahwa beliau –rahimahullah—seandainya semua itu memang benar berasal dari pendapat beliau –meskipun itu agak mustahil bahkan mungkin dipalsukan atas namanya—tidak bermaksud apapun selain menyatakan kebenaran sesuai dengan ijtihad yang ia lakukan. Saya berharap beliau tidak mendapatkan celaan (di akhirat) atas hal tersebut dan tidak dijauhkan dari pahala niat baiknya. Karena sesungguhnya beliau –semoga Allah memberikan kita manfaat darinya—adalah salah satu dari ulama tersohor dan pelita bagi umat ini. Mungkin saja beliau memiliki suatu uzur atau alasan. Dan tentu saja itu semua telah ditakdirkan dalam al-kitab (Lauh Mahfuzh).

Bagaimana pun juga, itu semua telah terjadi. Orang-orang lalai itu telah memanfaatkan kata-kata beliau dan menjadikannya sebagai penglaris dagangannya. Mereka menjadikannya pembenar atas keyakinan mereka yang salah. Menyebarkan pendapat itu kepada orang-orang awam di majlis-majlis mereka dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada perbedaan antara keturunan suci dengan siapapun diantara kaum muslimin lainnya.

Ketika perilaku tercela mereka telah tersebar luas dan terkuat rahasia kesesatan mereka yang tersembunyi itu, maka ada yang menggerakann saya untuk membuka kesalahan anggapan mereka tersebut dan menghancurkan kaidah-kaidah lemah yang mereka jadikan sandaran, yaitu perintah mulia dari salah seorang dari golongan terpilih (keluarga Nabi SAW) yang memiliki kesamaan dalam keinginan hati. Meskipun anggapan-anggapan mereka itu jelas-jelas salah tanpa perlu penjelassan dan tidak ada seorang pun yang telah mencium aroma iman yang ragu akan hal itu –sebagaimana dikatakan: tidak perlu bersusah payah menyalahkan yang jelas salah karena itu seperti mencari apa yang sudah ada– tapi itu adalah sebuah kemungkaran. Dan mengingkari kemungkaran adalah wajib, dan menghilangkan perkara bid’ah dari kaum muslimin adalah sesuatu yang harus dilakukan.

Akhirnya, saya pun menyusun kitab ini dari berbagai kitab para ulama. Saya menukil sejumlah contoh dalil dari Alquran, hadits dan atsar berkaitan dengan keutamaan keluarga Nabi SAW. Sehingga saya tidak hanya menjawab perkataan-perkataan buruk itu saja agar manfaat dari buku ini semakin luas. Saya menamakan kitab ini dengan: ASY-SYARAFUL MU`ABBAD LI AALI MUHAMMAD (KEMULIAAN ABADI KELUARGA NABI).
Saya memohon kepada Allah, Penguasa Arsy yang agung, agar buku ini bisa bermanfaat bagi saya dan kaum muslimin. Dan membangkitkan saya di bawah panji penghulu para rasul. Dalam kelompok orang-orang yang mencintai beliau dan keluarganya yang suci. Saya berharap para ulama memaklumi diri saya yang tidak membahas secara baik, memaafkan saya jika ada yang salah tertulis jika mereka menemukan itu. Jarang sekali seseorang yang terlepas dari kesalahan tulis.

Kitab ini saya susun dalam tiga tujuan dan penutup:

Tujuan pertama: pembahasan ayat: (Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu), dan dua hadis: (Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian dua hal yang berat) dan (dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku).

Tujuan kedua: pembahasan mengenai kemuliaan dan keutamaan Ahlul Bait serta keistimewaan mereka dari yang lain.

Tujuan ketiga : pembahasan tentang pahala yang besar karena mencintai mereka dan kemudaratan yang nyata karena membenci mereka.

Penutup : keutamaan sahabat, dan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait tidak memberikan manfaat jika dicampur dengan kebencian terhadap salah seorang sahabat Rasulullah SAW.

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MUKADIMAH KITAB ASY-SYARAFUL MUABBAD, KEMULIAAN ABADI KELUARGA NABI"

Post a Comment

Silahkan komentar yg positip